banten
Manusia Seribu Wajah Dengan Topeng Idealis yang penuh kemunafikan
BUKANADV – Di sebuah Provinsi yang terkenal dengan dunia mistisnya, hadirlah seorang yang kerap menyebut dirinya sebagai pembawa Kebenaran yang kerap berbicara tentang keadilan, tentang kesederhanaan, tentang cinta sesama, dan tentang kebencian terhadap harta. Bahkan, ia juga kerap merasa tidak pernah salah dalam hal apapun karena Maha benar daku dengan segala Alibinya.
Ia memakai Topeng Idealis.
Topeng itu terbuat dari porselen putih, diukir dengan senyum penuh welas asih, mata yang terlihat tajam namun bijak, dan rahang yang tegas seolah siap mempertahankan prinsip sampai mati. Setiap orang yang melihatnya akan mendengar suaranya menjadi lebih merdu, lebih berwibawa, dan lebih suci.
Dikalangan para pejabat pemerintah dan beberapa politikus, ia disebut dengan nama cahya,
Cahya adalah orator terbaik. Dengan topengnya, ia berteriak di atas mimbar, “Kekayaan adalah akar kejahatan! Mari kita hidup sederhana, bagikan apa yang kita punya kepada yang tak punya!”
Penonton bertepuk tangan meriah. Mereka terpesona oleh ketulusan yang terpancar dari wajah porselen itu. Namun, saat malam tiba dan lampu padam, saat ia kembali ke kamarnya yang terkunci rapat, Arif melepas topengnya.
Di balik wajah suci itu, ada wajah lain. Wajah yang matanya menyala-nyala saat menghitung tumpukan uang suap yang diselipkan lawan politiknya agar ia diam tentang kasus korupsi tertentu. Wajah yang tertawa sinis, “Mereka bodoh, percaya pada kata-kataku. Idealisme adalah bisnis paling menguntungkan.”
Cahya juga dikenal sebagai pejuang lingkungan dan hak asasi, dan pengamat kebijakan daerah (entah daerah dari mana). Topengnya paling indah, dihiasi simbol perdamaian. Ia sering menangis di depan kamera ketika membela teman dan relasinya, “Kita harus saling menyayangi! Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain!”
Namun, di balik topeng itu, Cahya adalah orang yang paling sombong. Ia membenci orang yang tidak sepaham dengannya, mengutuk mereka secara diam-diam, dan merasa hanya dialah satu-satunya manusia yang benar di dunia ini. Ia memaki pelayannya jika makanannya terlambat datang, padahal di depan publik ia berteriak tentang kesetaraan.
“Maha benar daku dengan segala dalihku. Daku yang memegang standar moral kalian.
Suatu hari, datanglah seorang anak kecil yang tidak memakai topeng sama sekali. Wajahnya polos, tanpa riasan, tanpa kedok. Ia berjalan masuk ke Balai Kemurnian itu dan melihat semua orang berbicara dengan lantang.
Anak itu menunjuk Cahya dan berkata dengan lantang, “Paman, kenapa mulutmu bilang ‘bagi-bagi’, tapi tanganmu menyembunyikan uang di balik punggung?”
Suara di aula itu mendadak hening.
Cahya terkejut. Topengnya hampir jatuh. “Anak nakal! Kamu tidak tahu apa-apa! Ini adalah strategi perjuangan!” jawabnya gugup.
Anak itu menoleh ke Cahya, “om, kenapa wajahmu tersenyum tapi matanya memandang orang lain dengan jijik?”
Cahya memalingkan wajah, “Itu… itu hanya ekspresi! Kamu belum dewasa, kamu tidak mengerti kompleksitas dunia!”
Anak itu tersenyum sedih. “Aku tidak mengerti. Kalian memakai topeng yang sangat indah, topeng yang bilang kalian baik, kalian jujur, kalian tulus. Tapi kenapa baunya sangat busuk? Seperti bangkai yang dibungkus kain sutra.”
Malam itu, terjadilah badai besar. Angin menerobos masuk ke dalam balai. Angin itu tidak meniup tubuh mereka, tapi meniup jiwa mereka. Satu per satu, topeng porselen itu terlepas paksa.
Krak!
Topeng Cahya pecah. Terlihat wajah aslinya yang keriput karena rasa serakah dan ketakutan. Tampak wajah aslinya yang penuh kebencian dan rasa lebih pintar dari orang lain.
Satu per satu yang mengalami Cahya nulai mereka saling memandang. Mereka tidak melihat “Pejuang”, tidak melihat “Sahabat”, tidak melihat “Guru”.
Mereka hanya melihat Setan yang sedang saling berbohong. mengagungkan nilai-nilai luhur bukan karena mereka memilikinya, tapi karena ia tahu itu adalah cara termudah untuk mendapatkan pujian dan kepercayaan.
Idealisme mereka hanyalah kostum. Dan kostum itu, akhirnya terbakar habis oleh kejujuran seorang anak kecil.
Sejak saat itu, tidak ada yang berani berbicara lagi. Mereka hanya diam, menunduk, dan berharap seseorang mau meminjamkan topeng baru agar mereka bisa kembali berpura-pura menjadi manusia yang baik.
Pesan :
Seringkali, orang yang paling keras berteriak tentang kebenaran dan moral adalah mereka yang paling jauh dari hal tersebut. Topeng idealis sering dipakai untuk menutupi lubang besar di dalam hati yang kosong akan integritas. (Bukan ADV)










