SERANG — Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Hortikultura dan perkebunan (BPSBTPHP) Dinas Pertanian Provinsi Banten saat ini tengah mengembangkan varietas padi warisan Kesultanan Banten, yaitu Kewal menak yg memiliki ciri khusus berbulu putih yang memiliki keunggulan kandungan gizi istimewa. Padi ini sangat cocok dikonsumsi bagi penderita diabetes dan berkebutuhan khusus.
Ade Salhah, Kasi Pelayanan Teknis Tanaman Pangan UPTD BPSBTPHP Distan Banten, mengatakan bahwa berdasarkan hasil uji nutrisi dan uji proximat yang telah dilakukan, padi Kewal menak memiliki kadar gula rendah serta kandungan serat kasar yang lebih tinggi. Berkat keunggulannya, padi ini berpotensi menjadi beras fungsional/fortifikasi yang cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun masyarakat yang memliki berkebutuhan khusus
“Varietas Kewal menakini memiliki nilai gizi yang baik, sehingga layak dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan pangan masyarakat Banten,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Ade menjelaskan, pengembangan varietas ini sempat terhenti pada akhir tahun 2025. Saat itu, serangan penyakit fuso dan perubahan kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan kegagalan panen secara keseluruhan. Setelah kejadian tersebut, pihaknya bekerja sama dengan salah satu aktivis pertanian untuk melakukan upaya peremajaan benih induk kembali.
“Saya bersama Bu Yuliani (aktivis pertanian) juga di dampingi peneliti dari Brin ibu Dr. Pepi mencoba melakukan peremajaan benih yang sempat terkena fuso, dengan cara menanam menggunakan galon bekas. Alhamdulillah hasilnya bagus dan sekarang siap dikembangkan lebih lanjut,” jelasnya.
Sementara itu, aktivis pertanian Yuliani mengatakan bahwa untuk mencegah benih induk kembali terkena serangan fuso jika langsung ditanam di sawah, pemulihan benih dilakukan dengan sistem galon.
“Hanya dari segenggam benih sebagai langkah awal kami mulai kembali. Sekarang sudah berjalan sekitar lima bulan proses pemulihannya,” ujarnya.
Saat ini jumlah benih yang tersedia masih sangat terbatas, yaitu hanya sekitar 2000 butir. Pengembangan baru dilakukan 200 butir dengan sistem galon dipilih agar pengawasan terhadap benih lebih mudah dilakukan. Harapannya, jumlah benih dapat berkembang menjadi kurang lebih lima kilogram, yang nantinya dapat ditanam di lahan seluas 2.000 meter persegi.
Asal‑Usul dan Perkembangan Varietas Lokal Kewal
Secara historis, asal‑usul varietas padi Kewal berkaitan dengan wilayah Kesultanan Banten kuno yang dahulunya masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Serang. Konon, padi ini diduga menjadi makanan kesukaan para sultan dan masyarakat Banten pada masa itu.
Seiring dengan perkembangan varietas unggul baru yang genjah dan berproduksi tinggi, keberadaan Kewal terdesak dan terancam punah. Meskipun demikian, di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Anyer, Kecamatan Ciomas, Kecamatan Padarincang, dan Kecamatan Baros masih ditemukan petani yang secara turun‑temurun menanam padi Kewal.
Perdagangan Kewal pun terjadi secara eksklusif di antara para peminat beras Kewal yang saat ini semakin berkembang. Pada tahun 2006, Dinas Pertanian Kabupaten Serang melakukan pemurnian dan pendaftaran varietas Kewal SR‑1, Kewal SR‑2, dan Kewal SR‑3. Kurangnya sosialisasi membuat stok benih varietas yang telah terdaftar tersebut akhirnya hilang.
Kemudian pada tahun 2018, minat terhadap Kewal mulai bangkit dengan hadirnya pengusaha pemerhati Kewal Ibu Yuliani yang berkeinginan mengangkat kembali padi ini karena potensi pasar yang luas, tidak hanya di wilayah Serang dan Banten, bahkan hingga ke Korea Selatan.
Karena itu, mulailah dilakukan berbagai langkah strategis antara pihak pemerhati Kewal, Pemerintah Daerah Kabupaten Serang beserta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta Pemerintah Daerah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian dan UPTD BPSBTPH yang digerakkan oleh Kepala Seksi Pelayanan Teknis Tanaman Pangan Hj. Ade Salhah, SP, MM beserta peneliti Dr. Hj. Pepi Nursusilawati dan tim (peneliti BPTP Banten yang sejak tahun 2022 beralih ke BRIN) untuk melakukan berbagai upaya penyelamatan, pemurnian, dan pendaftaran varietas lokal ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Usaha itu tidak sia‑sia. Pada tahun 2023, varietas Kewal telah terdaftar di PPVTPP dengan nomor 2016/PVL/2023 pada tanggal 10 April 2023 dengan nama Kewal Menak. Nama “Menak” mengandung arti bahwa beras ini adalah kesukaan para menak, pesohor, atau sultan. Secara eksklusif, peminat beras Kewal masih didominasi oleh kalangan menengah ke atas karena harga jualnya cukup tinggi. Tanda pendaftaran ini mengindikasikan bahwa Kewal Menak merupakan varietas milik wilayah Kabupaten Serang sesuai dengan perundang‑undangan yang berlaku.
Berdasarkan U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service: USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Amerika Serikat: 2019 [diperbarui 4 Januari 2019; dikutip 31 Desember 2019], tersedia dari: https://fdc.nal.usda.gov/.
Berdasarkan Hasil Pengujian Balai Besar Pasca Panen Tahun 2022
Dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa padi Kewal memiliki potensi sebagai beras fungsional terutama untuk penderita diabetes dan anak‑anak berkebutuhan khusus.
Pada tahun 2025 terjadi serangan hama dan tikus secara massal yang berakibat gagal panen. Penyebab utamanya adalah penentuan waktu tanam yang kurang tepat. Hal ini terasa sangat menyakitkan karena tim telah melakukan identifikasi, karakterisasi, pengamatan, dan penelitian selama lima tahun.
Akibat gagal panen tersebut, stok benih hampir punah dan rencana uji ketahanan hama‑penyakit serta uji mutu hasil tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2026. Uji tersebut merupakan tahap terakhir sebelum sidang pelepasan varietas dari tingkat lokal Kabupaten Serang menjadi varietas lokal unggul nasional.
Dari sisa panen, terkumpul kurang lebih 2.000 butir benih. Secara swadaya dan didampingi peneliti ahli dari BRIN, tim melakukan penyelamatan benih menggunakan media ember dan galon bekas di halaman belakang kantor. Kegiatan dimulai pada 27 Mei 2026 dan alhamdulillah saat ini tanaman telah memasuki fase generatif pembungaan dan pembentukan butir padi.
Karena itu, Ade Salhah, meminta doa kepada masyarakat agar upaya yang dilakukan dapat berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya bagi masyarakat yang sedang menjalani program diet dan masyarakat berkebutuhan khusus.
“Tentu saja harapan kami, upaya ini dapat ikut mendukung peningkatan ketahanan pangan dan memperkecil angka stunting khususnya di Provinsi Banten,” ujarnya. (Dinar)