Uncategorized

Ironi “Sodetan Karian”: Saat Proyek Strategis Abai Terhadap Nyawa di Sekitarnya

Published on

LEBAK, Klikviral.com – Kematian tragis F (6) dan R (8) di area proyek sodetan Bendungan Karian pada Selasa (14/4/2026) bukan sekadar angka dalam laporan kecelakaan. Tragedi di Desa Mekarsari, Kecamatan Maja ini menjadi potret buram bagaimana pembangunan infrastruktur skala besar sering kali gagal menciptakan harmoni keamanan dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Secara kasatmata, peristiwa ini adalah kecelakaan saat bermain di tengah hujan. Namun, jika dibedah lebih dalam, ada benang merah kegagalan sistemik yang patut dipertanyakan dari pihak pelaksana proyek di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC) Banten.

Zona Bahaya Tanpa Barikade

Proyek sodetan yang dirancang untuk mengaliri air ke wilayah Tangerang ini seharusnya memiliki standar pengamanan ekstra ketat, mengingat lokasinya yang berhimpitan dengan permukiman warga Kampung Pasirmakam. Keberadaan galian sedalam hitungan meter yang dibiarkan terbuka saat musim hujan—tanpa pagar pembatas atau pengawasan—adalah sebuah “undangan” maut bagi anak-anak.

Ketua Perkumpulan Gerakan Moral Anti Kriminalitas (GMAKS) Saeful Bahri, menafsirkan insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Menurutnya, keselamatan dalam sebuah proyek tidak hanya berlaku bagi pekerja di dalam pagar, tetapi juga masyarakat yang terdampak secara geografis.

 “Seharusnya ada pengamanan yang jelas agar kejadian seperti ini tidak terulang. Proyek infrastruktur wajib dilengkapi pembatas area berbahaya dan rambu peringatan,” tegasnya.

Kontradiksi Pembangunan

Ada ironi yang menyesakkan di sini. Bendungan Karian dan proyek sodetannya dibangun untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi jutaan orang. Namun, dalam prosesnya, ia justru merenggut masa depan dua bocah lokal yang bahkan belum sempat merasakan manfaat dari megaproyek tersebut.

Secara interpretatif, kejadian ini menunjukkan adanya celah antara perencanaan teknis dan mitigasi dampak sosialn. Proyek-proyek besar sering kali terlalu fokus pada tenggat waktu penyelesaian beton dan galian, namun abai pada detail kecil namun vital: memastikan bahwa tidak ada warga—terutama anak-anak—yang bisa mengakses area berbahaya dengan mudah.

Menanti Klarifikasi dan Tanggung Jawab

Hingga saat ini, publik masih menunggu jawaban dari BBWSC Banten. Apakah mereka akan melihat ini sebagai murni kesalahan orang tua dalam mengawasi anak, ataukah mereka berani mengakui bahwa ada standar keamanan yang “bocor” di lapangan?

 

Relawan BPBD Kecamatan Maja, Afif Sahro Afifi, telah mengonfirmasi bahwa galian itulah yang menjadi lokasi tenggelamnya kedua korban. Fakta ini seharusnya cukup bagi aparat penegak hukum dan kementerian terkait untuk mengevaluasi kembali kontrak kerja dan kepatuhan K3 pada vendor yang bersangkutan (dikutip dari berita bantennews.co.id)

Kesimpulan

Makam F dan R kini telah menutup, namun lubang galian di Mekarsari masih menganga. Jika tidak ada tindakan tegas dan perbaikan sistem keamanan dari pihak pengelola, proyek sodetan ini akan terus menyisakan trauma mendalam bagi warga—sebuah pembangunan yang dibayar terlalu mahal dengan nyawa manusia.

Analisis GMAKS 

“Tragedi ini menyoroti bahwa keselamatan publik adalah bagian integral dari keberhasilan proyek negara. Ketidakhadiran pembatas fisik di area berisiko tinggi adalah bentuk pengabaian hak hidup masyarakat di sekitar zona konstruksi.” Jelas Saeful Bahri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version