banten
Kebocoran Retribusi Pasar di Kabupaten Serang Mencapai 16 Persen
Kepala UPT Pasar Kabupaten Serang, Mahyar Sonjaya mengatakan, kebocoran tersebut disebabkan ketiadaan bagi pedagang yang tidak membayar penuh retribusi.
Dijelaskan Mahyar, Petugas penagih kerap menghadapi situasi di mana pedagang hanya mau membayar separuh tarif resmi, misalnya Rp2.000 untuk kios yang seharusnya Rp4.000.
“Petugas di lapangan sering bingung. Kalau harga karcisnya Rp4.000 tapi pedagang cuma mau bayar Rp2.000, petugas terpaksa menutupi kekurangannya. Akhirnya, banyak yang tidak diberikan karcis atau hanya diberi satu karcis meski memiliki beberapa lapak,” ujarnya, Sabtu (04/10/2026).
Diungkapkan Mahyar, meski telah ada sistem pencatatan retribusi terutang, penagihan tetap berjalan lambat. Kelemahan utama terletak pada Perda yang belum mengatur sanksi tegas bagi pedagang yang menunggak atau membayar tidak sesuai ketentuan. Akibatnya, potensi pendapatan yang hilang mencapai sekitar 16 persen.
Adapun target retribusi tahun 2026, kata Mahyar. Dari 12 pasar tradisional yang dikelola, baru menyentuh angka Rp800-an juta, padahal target tahunan dipatok sebesar Rp1,3 miliar hingga Rp1,4 miliar. Saat ini pihaknya tengah menghadapi tantangan berat dalam mengejar target pendapatan asli daerah dari sektor retribusi pasar tradisional.
Mahyar juga menjelaskan kondisi di lapangan mencatat adanya 2.642 tempat usaha yang terdiri dari kios, los, dan lapak pedagang kaki lima di seluruh pasar yang dikelola. Namun jumlah pedagang yang benar-benar aktif berdagang hanya sekitar 2.200 orang.
“Ketimpangan ini terjadi karena banyak pedagang yang menguasai dua hingga lima lapak sekaligus,” ungkapnya.
Sesuai Peraturan Daerah, tarif retribusi ditetapkan Rp4.000 untuk setiap kios dan Rp3.000 untuk los maupun lapak kaki lima. Namun di lapangan, aturan ini kerap diakali. Pedagang yang menguasai beberapa tempat sering menyatukan secara fisik dan hanya bersedia membayar retribusi untuk satu lapak saja.
Dampak Belanja Online, WiFi Gratis Jadi Solusi
Tekanan lain datang dari perubahan perilaku konsumen. Warga kini lebih memilih berbelanja kebutuhan sekunder lewat platform daring, sehingga pasar tradisional hanya mengandalkan transaksi kebutuhan pokok atau sembako.
Sektor perdagangan pakaian yang mencakup 40 persen total komoditas pasar menjadi yang paling terpukul. Tak sedikit pedagang pakaian di wilayah Serang hingga perbatasan Pandeglang yang terpaksa berhenti beroperasi karena sepi pembeli.
Menyikapi hal tersebut, kata Mahyar. Pohaknya kini bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memasang fasilitas WiFi gratis di setiap pasar.









