banten
Viral: Wanita Lapor ke Komnas Perempuan, Tuduh Gubernur Banten Lakukan Pemerkosaan
SERANG – Sebuah unggahan video di platform TikTok yang diunggah akun wanita pancasila menjadi sorotan luas setelah menampilkan seorang wanita yang mendatangi kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026, untuk melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pejabat tinggi di Provinsi Banten.
Wanita tersebut bernama Ida Farida (44 tahun). Dalam laporannya yang tercatat dengan nomor pengaduan D350/MM.01.00/VII/2026 dan ID Pengaduan AD20260706-DHLDA, ia menuduh Gubernur Banten, Andra Soni, melakukan pemerkosaan kepadanya sejak tahun 2019.
Unggahan ini pertama kali dibagikan akun TikTok @wanita.pancasila dan dengan cepat menyebar ke berbagai media sosial lainnya. Dalam video yang direkam di lingkungan kantor Komnas Perempuan, Ida Farida menyampaikan kronologi peristiwa serta menegaskan telah menyerahkan seluruh bukti pendukung.
“Intinya saya ke sini untuk pengaduan atas nasib saya yang dilecehkan oleh salah satu tokoh di Banten. Kejadiannya sudah lama. Saya sudah beberapa kali dengan adik saya mencoba mediasi, tapi tidak digubris. Makanya saya minta perlindungan ke Komnas Perempuan. Sudah enam tahunan saya menahan ini,” ujar Ida dalam rekaman tersebut.
Ia menambahkan: “Semuanya sudah saya serahkan, berupa rekaman obrolan, foto-foto, flashdisk dan lainnya, dari kronologi awal sampai akhirnya. Peristiwa pemaksaan terjadi sejak tahun 2019. Saya siap lanjut ke ranah hukum untuk proses selanjutnya. Saya memperjuangkan hak saya sebagai perempuan agar tidak dilecehkan. Pelaku adalah kepala daerah di Banten.”
Kronologi yang Disampaikan Korban
Berdasarkan dokumen kronologi yang dilampirkan dan beredar luas, peristiwa bermula pada Agustus 2019 di kantor DPD Partai Gerindra Cipocok Jaya. Saat itu, Ida menemani adiknya mendaftar sebagai calon anggota dewan kabupaten, dan ia juga mendapatkan tawaran untuk melengkapi kuota 30 persen keterwakilan perempuan di DPRD Provinsi Banten dari pihak yang disebut Bapak Desmon dan Andra Soni.
Sejak saat itu, Andra Soni diklaim mulai mendekati korban setiap hari, membantu melengkapi persyaratan administrasi hingga menemui calon pemilih.
Insiden di Hambalang
Puncaknya terjadi saat pertemuan seluruh kader Gerindra di Hambalang, Bogor. Usai makan malam bersama, Andra Soni mengajak Ida berbicara empat mata, namun ternyata membawanya ke sebuah kamar yang telah disiapkan sebelumnya.
“Saya sudah menolak secara halus hingga menolaknya secara kasar namun saya tetap dipaksa dan akhirnya saya diperkosa oleh Andra Soni pada malam itu!” tulis Ida dalam dokumen pernyataannya.
Setelah kejadian itu, mereka diklaim melangsungkan pernikahan sirih pada Jumat, 22 November 2021 di Cimahi, Bandung, disaksikan keluarga dekat dan dua orang saksi. Hubungan ini berlangsung sekitar empat tahun hingga tahun 2025.
Ditinggalkan dan Terbebani Utang
Ida menyatakan mulai tahun 2024, Andra Soni bersikap menjauh dengan alasan kesibukan, lalu mulai mengabaikan hingga memblokir kontaknya. Ia bahkan diminta berkomunikasi melalui supir pribadi agar identitas hubungan mereka tidak terungkap, hingga pada akhirnya diminta mencari pria lain sebagai “pacar palsu” untuk menutupi jejak hubungan tersebut.
Selain dugaan kekerasan seksual, Ida juga menyinggung soal dana yang dipinjamkan kepada Andra Soni untuk keperluan kampanye pemilihan anggota dewan maupun pencalonan Gubernur Banten, baik melalui transfer maupun uang tunai.
Pada September 2025, saat ia berusaha menagih kejelasan hubungan beserta bukti-bukti utang, pihak Andra Soni hanya memberikan uang sebesar Rp200 juta kepada adiknya. Padahal, hingga kini Ida mengaku masih terjerat utang besar akibat dana yang dipinjamkan tersebut belum dikembalikan sepenuhnya.
Upaya pendekatan secara kekeluargaan terus dilakukan namun menemui jalan buntu, sebab pihak yang dituju tidak lagi merespons panggilan maupun pesan.










