Connect with us

    Carut marut pembangunan Breakwater Cikeusik Dimana Tanggung jawab Kepala DKP Provinsi .Banten?

    banten

    Carut marut pembangunan Breakwater Cikeusik Dimana Tanggung jawab Kepala DKP Provinsi .Banten?

    BANTEN, klikviral com – Pembangunan Breakwater tuai kritikan dari pengamat politik dan akademisi UNIBA Banten, Budi Ilham, pasalnya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) diduga ada upaya melakukan perbuatan melawan hukum secara bersama-sama dengan Direktur PT.Jivi Creative. “Kurang lebih tidak mencapai 80% progres dalam pembangunan breakwater ini,”ungkap Budi

     

    “TIdak bisa dipungkiri, fakta hasil Tim Investigasi dan pendalaman kajian oleh para Pakar dan spesialis Pembangunan Breakwater yang turun ke lokasi beberapa waktu lalu menunjukan betapa miris, seolah abai akan standar dan ketentuan pembangunan yang seharusnya”, ungkap Budi seraya menyatakan melihat fakta lapangannya, berantakan bahkan terkesan asal-asalan, sehingga patut diduga terjadi korupsi pada kegiatan pekerjaan pembangunan penahan gelombang (Break Water), Pekerjaan Tetrapod dan Revitalisasi dermaga 1 (Fender, Bolder, Hydran) Pelabuhan perikanan Cikeusik yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang.

     

    Lebih lanjut Budi menyatakan, anggaran Pembangunan breakwater dengan nilai kontrak Rp. 14.638.211.000,- bersumber pada APBD Provinsi Banten tahun 2022 dan CV. Jivi Creative sebagai Pelaksana, sangat kontradiktif apabila melihat hasil yang dipertontonkan. Sedangkan Konsultan Pengawas dengan Nilai Kontrak Rp.514.257.450,- yang tidak jelas bagaimana profesionalisme yang di tunjukan.

    TIM berkesimpulan singkat ketidak cermatan dalam pembangunan diantaranya ;

    1. Permukaan Top elevasi breakwater tidak rata, jika hal ini dikarenakan adanya gejala penurunan pasangan, semestinya ada beberapa spot permukaan yang rata, tidak seperti yg ada saat ini permukaan top elevasinya tidak rata dan bergelombang naik turun.

    2. Sudut Sloope/kemiringan breakwater yang tidak presisi, biasanya dikarenakan dua faktor, faktor pertama karena terburu-buru dalam pemasangannya, dan kedua mungkin skil operator excavator yang tidak mumpuni sehingga hasil pekerjaan tersebut tidak presisi dan tidak memiliki nilai estetika.

     

    Sloope/kemiringan ini merupakan bagian lapisan armor breakwater dan pada RAB pekerjaan ini semestinya dipasang batu dengan ukuran berat 200 – 300 kg dengan void maksimum 30% per 1 m3 nya…kenyataan di lapangan terlihat dengan jelas, bagian sloope yang tidak tertutup tetrapod memiliki kondisi yang berantakan.

    3. Penempatan tetrapod apakah sudah sesuai dengan gambar pelaksanaan? fungsi tetrapod disini adalah untuk memperkuat struktur bangunan konstruksi pantai yang ada yaitu breakwater yg terbuat dari batu boulder. penempatan pada sisi kiri dan kanan breakwater tidak sama, apakah ada justifikasi teknisnya? sehingga penempatan tetrapod tersebut tidak sama.

    Secara eksplisit Resume analisa lapangan tengah di susun oleh TIM, baik analisa kerugian keuangan ataupun kerugian dampak lingkungan, tentunya analisa ini di kaji oleh para pakar dari unsur Perguruan Tinggi, Praktisi Spesialis pembangunan Breakwater dan Pakar Hukum. Kesimpulan lengkap akan di serahkan pada Aparat Penegak Hukum (APH) baik Kejaksaan Tinggi atau Pihak Kepolisian dalam waktu dekat.’’Ujar Budi.

     

    Sejauh ini carut marut pembangunan Breakwater Cikeusik tidak ada tanggapan atau komentar dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, walau sudah banyak media yang mengkritisi dan menulis kejanggalan Fisik dari kegiatan pembangunan breakwater tersebut.

     

    “Saya dan TIM, akan mengawal terus masalah ini sampai di Pengadilan, dan meminta APH hadir untuk menegakkan supremasi hukum demi menciptakan Provinsi Banten bebas dari tangan-tangan Jahil yang merugikan Masyarakat.’’ Pungkas Budi.

     

     

    Dian Haerina – Suprani

    Click to comment

    Leave a Reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in banten

    To Top